Menko Pangan

Menko Pangan Pastikan Telur dan Daging Ayam Terserap Program MBG 2026

Menko Pangan Pastikan Telur dan Daging Ayam Terserap Program MBG 2026
Menko Pangan Pastikan Telur dan Daging Ayam Terserap Program MBG 2026

JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, memastikan seluruh produksi telur dan daging ayam peternak rakyat akan terserap melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada 2026. 

Program ini menargetkan 82,9 juta penerima manfaat secara nasional, sehingga kebutuhan protein bagi masyarakat akan terpenuhi setiap hari.

Zulhas menyampaikan, “Telor itu satu hari memerlukan 82,9 juta butir, tidak usah khawatir telor ayam pasti diserap SPPG.” 

Pernyataan ini memberikan kepastian bagi para peternak rakyat agar produksi mereka tidak lagi bergantung pada fluktuasi pasar konvensional.

Selain telur, kebutuhan daging ayam untuk MBG juga dipastikan dalam jumlah besar setiap hari. Pemerintah menghitung kebutuhan daging ayam mencapai puluhan juta potong per hari. 

Zulhas menegaskan, “Ayam itu satu hari perlu 82,9 juta potong daging.” Dengan kepastian ini, peternak dapat merencanakan produksi secara lebih terukur, sehingga stabilitas harga dan pasokan dapat dijaga.

Peran SPPG dalam Stabilitas Harga dan Usaha Peternak

Keberadaan SPPG diharapkan menjadi penopang baru bagi stabilitas harga sekaligus menjaga keberlanjutan usaha peternak kecil. 

Zulkifli Hasan menekankan bahwa sektor perunggasan merupakan basis ekonomi rakyat yang harus dilindungi agar peternak memperoleh keuntungan yang adil.

“Peternak harus untung, karena sebetulnya usaha ayam ini usaha rakyat, bukan konglomerat. Masa depannya cerah dan terang benderang,” ujar Zulhas. 

Pernyataan ini menegaskan komitmen pemerintah untuk melindungi kepentingan peternak rakyat sekaligus memastikan program MBG berjalan lancar.

Dengan adanya SPPG, ketergantungan peternak pada pasar konvensional yang sering fluktuatif dapat dikurangi. Peternak kini memiliki kepastian pasar untuk produk mereka, sehingga usaha bisa berlanjut dengan lebih stabil. Strategi ini juga memberikan insentif bagi peternak untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi.

Strategi Hilirisasi Ayam Terintegrasi

Untuk memastikan pasokan aman dan harga terkendali, pemerintah menyiapkan strategi hilirisasi ayam secara terintegrasi dari hulu hingga hilir. Model ini mencakup penguatan pembibitan grand parent stock, parent stock, final stock, serta dukungan penyediaan pakan.

Tahap awal pengembangan ekosistem ini telah dilakukan di enam daerah, yaitu Kabupaten Malang, Lampung Selatan, Bone, Paser, Gorontalo, dan Sumbawa. Integrasi ini bertujuan menjaga ritme produksi agar suplai protein bagi MBG tetap stabil sepanjang tahun, termasuk saat panen raya maupun musim rendah produksi.

Pendekatan terintegrasi ini membantu pengendalian harga, sehingga tidak terjadi lonjakan akibat keterlambatan distribusi atau pasokan yang tidak merata. Strategi ini juga memastikan pasokan telur dan ayam tersebar merata di seluruh wilayah, mendukung keberhasilan program MBG sekaligus menstabilkan pasar.

Target Produksi dan Kebutuhan Protein MBG

Program MBG menargetkan penyediaan protein hewani bagi 82,9 juta penerima manfaat setiap hari. Angka ini membuat kebutuhan telur dan daging ayam menjadi sangat besar. 

Pemerintah memastikan jumlah ini dapat dipenuhi oleh produksi peternak rakyat tanpa harus menambah impor atau menekan harga secara tidak wajar.

Zulhas menegaskan pola distribusi protein harus konsisten. “Sekarang seminggu memberikan satu telor, ayam satu minggu sekali atau dua kali tidak boleh karena harganya bisa tidak terkontrol. Makanya ada campur-campur, seperti ikan,” ujarnya. 

Dengan distribusi yang stabil, volatilitas harga dapat diminimalkan, dan penerima MBG memperoleh gizi memadai setiap hari.

Selain itu, program ini memberikan kesempatan bagi peternak rakyat untuk meningkatkan kapasitas produksinya. 

Dengan kepastian pasar melalui SPPG, peternak dapat merencanakan usaha jangka panjang, mulai dari pembiayaan, pembibitan, hingga pengelolaan pakan dan distribusi. Program ini menjamin keberlangsungan usaha dan pendapatan peternak di seluruh Indonesia.

Dampak Program MBG bagi Ekonomi Rakyat

Program MBG tidak hanya fokus pada pemenuhan gizi nasional, tetapi juga memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi rakyat. Dengan terserapnya seluruh produksi peternak rakyat, usaha ayam dan telur menjadi lebih stabil dan menguntungkan.

Zulhas menegaskan penguatan sektor perunggasan berbasis rakyat merupakan kunci kemandirian pangan nasional. Pemerintah mendorong keterlibatan peternak kecil dalam rantai pasok yang terintegrasi, sehingga setiap tahap produksi hingga distribusi dapat dikelola lebih efisien.

Keberhasilan program MBG sekaligus menjadi fondasi bagi pertumbuhan ekonomi lokal. Pendapatan peternak meningkat, distribusi protein hewani menjadi lebih merata, dan masyarakat penerima MBG memperoleh gizi lengkap tanpa terganggu fluktuasi harga pasar. 

Dengan strategi yang terencana, MBG menjadi solusi win-win: peternak rakyat untung, harga stabil, dan penerima MBG terpenuhi kebutuhan gizinya.

Pemerintah menekankan bahwa program MBG juga mendukung keberlanjutan usaha, sehingga sektor perunggasan rakyat dapat bertahan dalam jangka panjang. 

Dengan pengawasan yang baik, integrasi produksi, dan distribusi yang merata, program MBG menjadi contoh nyata sinergi antara kebijakan pemerintah dan kepentingan ekonomi rakyat.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index